Lindungi Satwa dari Kepunahan, DPRD Paser Susun Raperda dan Libatkan Pihak ITS Surabaya


person access_time 8 months ago remove_red_eyeDikunjungi 227 Kali
Lindungi Satwa dari Kepunahan, DPRD Paser Susun Raperda dan Libatkan Pihak ITS Surabaya

Kantor Sekretariat DPRD Paser/beritakaltara

Agenda persiapan terkait naskah rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang perlindungan salah satu satwa sejenis kura-kura saat ini tengah digodok kalangan dewan di DPRD Paser. 

Ditulis Oleh: Ahmad Rano
28 Januari 2020

DIKSI.CO, TANAPASER –  Agenda persiapan terkait naskah rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang perlindungan salah satu satwa sejenis kura-kura saat ini tengah digodok kalangan dewan di DPRD Paser. 

Hal itu dilakukan untuk menjaga satwa sejenis kura-kura yang di kalangan masyarakat dinamakan sebagai Biuku atau Beluku. 

Dalam prosesnya, tim naskah akademik dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya juga dilibatkan. 

Disampaikan Wakil Ketua DPRD Paser Fadly Imawan bahwa hewan endemik yang dilindungi di Paser ini harus terjaga kelestariannya. Sehingga hal ini menjadi dasar legislator membuat Raperda. Selain pembahasan naskah akademik, akan ada juga uji publik oleh komunitas pelaku konservasi biota sungai ini.

" Selain itu jika sudah disahkan perdanya nanti, kita harapkan satwa ini bisa dikembangbiakkan keberadaannya. Baik itu populasi nya dari usia kecil, dewasa, maupun telurnya yang rawan diperjualbelikan," ujarnya. 

Sementara itu, anggota DPRD Paser, Hamransyah, menekankan pada perlunya permberian nama spesifik pada satwa sejenis kura-kura tersebut. Hal ini berkaitan dengan naskah yang nantinya akan menjadi Perda. 

" Ke depan kita harus lebih intens terkait sosialisasi hewan ini. Jangan sampai dalam penyebutannya saja masyarakat sudah salah. Ini juga berkaitan dengan penulisan di Perda," kata Hamransyah.

Tim ahli dari ITS Surabaya, Mohammad Muntaha mengatakan Paser memang perlu membentuk perda terkait hewan ini. Pasalnya kepunahan terus terjadi karena berbagai faktor, seperti aktivitas tambang pasir, hewan predator, konservasi yang tak memadai, perubahan iklim, serta pengambilan telur yang tak terkendali.

Yang membedakan Biuku dengan Beluku kata dia ialah Biuku jumlah kaki depan dan belakang 4, sedangkan Beluku kaki depan 5 dan kaki belakang 4 serta berselaput pada bagian jari jari. Untuk di Paser menurutnya ialah jenis Beluku.

"Terdata dari masyarakat, Beluku dari tahun ke tahun mengalami penurunan jumlah populasinya. Jumlah Beluku yang kembali untuk bertelur di pasiran pada tahun 2017 sejumlah 100 ekor, sedangkan pada tahun 2016 ada 150 ekor. Telur Beluku ini juga diakui menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat, karena bisa dikonsumsi. Ini lah salah satu ancaman kepunahannya," kata Muntaha.

Tujuan dibentuknya Perda ini ialah memberikan landasan hukum dari bahaya kepunahan, memulihkan dan mempertahankan populasi, meningkatkan partisipasi masyarakat, dan membuat penangkaran atau konservasi yang layak. (advertorial)



Tinggalkan Komentar



Baca Lainnya